Tuesday, October 12, 2010

AKHLAK TERPUJI

AKHLAK TERPUJI

A. PENDAHULUAN

Watak atau karakter seseorang yang baik hanya akan didapat bila sifat-sifat terpuji dibina menjadi kebiasaan di dalam kehidupan sehari-hari secara berkelanjutan. Perilaku mulia atau sifat terpuji yang akan dibahas kali ini, di antaranya sikap adil, bijaksana, rida, dan produktif serta efisien.

B. PEMBAHASAN

1. ADIL

Adil memiliki maka meletakkan sesuatu pada tempatnya, atau dengan kata lain, memberikan kepada yang berhak akan hak-hak mereka. Kata adil berarti lurus, tidak berat sebelah, tidak memihak, atau berpegang pada yang benar. Keadilan adalah bentuk sifat atau sikap dari makna kata adil. Allah berfirman sebagai berikut:

* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An Nahl:90).

Demikian pula halnya apabila seseorang menjadi juru ramai, hendaklah berlaku adil. Sifat adil artinya sifat yang teguh atau kukuh yang tidak menunjukkan sikap memihak kepada seseorang atau golongan. Adil itu sifat mulia dan sikap yang lurus serta tidak terpengaruh oleh faktor keluarga, hubungan kasih sayang, karib kerabat, golongan, dan sebagainya. Sebagai pemimpin dan hakim juga hendaknya berlaku adil sesuai dengan contoh nabi Muhammad saw.

Dengan demikian, keadilan adalah sendi pokok ajaran Islam yang harus ditegakkan. Jika keadilan ditegakkan, maka segala urusan akan lancer. Sebaliknya, jika hokum dan keadilan rapuh, maka akan terjadi perpecahan dan kekacauan di kalangan umat.

1. Macam-macam perilaku adil:

Berlaku adil dapat diklasifikasikan kepada empat bagian, yaitu sebagai berikut:

a. Berlaku adil kepada Allah swt, yaitu menjadikan Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang memiliki kesempurnaan. Kita sebagai makhluk-Nya harus senantiasa tunduk dan patuh pada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

b. Berlaku adil pada diri sendiri, yaitu menempatkan diri pribadi pada tempat yang baik dan benar. Diri kita harus terjaga dan terpelihara dalam kebaikan dan keselamatan, tidak menganiaya diri sendiri dengan menuruti hawa nafsu yang akibatnya dapat mencelakakan diri sendiri.

c. Berlaku adil kepada orang lain, yaitu menempatkan orang lain pada tempat yang sesuai, layak, benar, memberikan hak orang lain dengan jujur dan benar serta tidak menyakiti serta merugikan orang lain.

d. Berlaku adil kepada makhluk lain, yaitu dapat memperlakukan makhluk Allah swt yang lain dengan layak sesuai syariat dan menjaga kelestariannya dengan merawat serta tidak merusaknya.

2. Menunjukkan sikap adil

Cara menunjukkan sikap adil kepada orang lain dapat dilakukan dengan hal-hal berikut:

a. Memberikan rasa aman kepada orang lain dengan sikap ramah, sopan, dan santun.

b. Patuh pada perintah Allah swt dan melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

c. Menjadi teladan dan menciptakan suasana yang kondusif, tenteram serta rukun.

d. Bila bermitra harus saling menguntungkan dan memanfaatkan alam untuk kemaslahatan dan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat.

e. Tidak sombong atau angkuh bila bergaul dengan masyarakat berbagai lapisan.

f. Berpikiran positif (positive thinking), yaitu berprasangka baik terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya.

g. Selalu berbuat kebajikan atau kebaikan terhadap sesama, khususnya fakir miskin.

h. Selalu menggunakan akal dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

i. Tidak pilih kasih bila berkawan.

j. Tidak membuat kerusakan, permusuhan, dan kedengkian.

k. Tidak mendahulukan emosi di dalam menghadapi masalah, kumpulkan informasi selengkap mungkin dengan adil dan gunakan rujukan sesuai kehendak Allah swt.

2. BIJAKSANA

Memiliki sifat bijaksana merupakan idaman banyak orang. Seseorang yang bijaksana adalah seseorang yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan cara dan jalan yang terbaik. Bijaksana merupakan bentuk kualitas dari sebuah keputusan pada suatu masalah.

Hadits Nabi Muhammad saw menyatakan, ”Sesungguhnya ahli kebajikan di dunia, mereka juga adalah ahli kebajikan orang yang masuk ke surge, mereka itu adalah ahli-ahli kebajikan.” (HR Tabrani).

Islam mengajarkan kebijaksanaan sebagai sifat yang harus dimiliki oleh manusia. Sifat bijaksana merupakan cerminan dari akhlak mulia seseorang dalam menyikapi problematika yang dihadapinya antara lain melalui sikap optimis, tawadu, dan tawakal kepada Allah swt.

Perilaku bijaksana harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari karena mempengaruhi keputusan dan langkah-langkah menyelesaikan suatu persoalan. Ada sejumlah perilaku terpuji yang harus dimiliki agar kita dapat menjadi bijaksana, antara lain sebagai berikut:

1. Empati adalah sifat di mana seseorang dapat merasakan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain atau dapat memandang sesuatu sebagaimana orang lain memandang.

2. Pengendalian emosi. Mungkin ada perasaan tertentu pada saat kita akan mengambil keputusan, seperti rasa marah, sedih, iba, atau bosan. Kita harus mampu mengendalikan hati agar tidak merasuk ke dalam diri kita. Janganlah mengambil keputusan di saat kita belum mampu mengendalikan emosi. Keputusan yang baik atau ucapan yang baik berasal dari hati yang sehat dan menggambarkan kondisi jiwa kita.

3. Kemandirian. Sebuah keputusan harus diambil tanpa pengaruh dan tekanan pihak lain. Pendapat atau pandangan orang lain tentu dapat dijadikan pertimbangan, tetapi hal tersebut tidak boleh menjadi tekanan dalam membuat keputusan.

4. Berpikir positif, artinya dapat menemukan hikmah dari segala peristiwa. Melalui berpikir positif, kita akan memandang persoalan lebih luas sebagai proses pembelajaran agar menjadi lebih baik.

5. Teliti dan berhati-hati dalam menghadapi berbagai keadaan yang sulit. Keputusan yang diambil telah berdasarkan pada pemikiran dan renungan yang mendalam sehingga dapat diterima oleh semua pihak dan tidak merugikan siapapun.

Berpikir matang merupakan salah satu cerminan pribadi yang bijaksana. Orang yang berpikir matang senantiasa berhati-hati dalam mengambil keputusan dan berlaku teliti dalam mengambil tindakan.

Menurut Islam, tidak ada satupun perbuatan yang kita lakukan tanpa dimulai dengan aktivitas berpikir. Oleh karena itu, seorang muslim harus memiliki wawasan keilmuan yang luas. Dapat kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan yang dilakukan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu sebagaimana firman Allah swt:

3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$#

Artinya : “Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S. Az Zumar:9).

Sikap suka berpikir matang di antaranya dapat dilihat melalui perilaku berikut ini.

1. Menunjukkan kemampuan berpikir secara objektif.

2. Mampu mengendalikan prasangka buruk dan selalu menggantinya dengang selalu berprasangka baik (positive thinking).

3. Bersikap terbuka dan menerima koreksi atau kritik.

4. Berperilaku selalu pada hal-hal yang dituntun oleh keseimbangan rasio dan emosi sehingga tidak mengikuti hawa nafsu sendiri.

5. Mudah bergaul dan enak diajak bicara.

3. RIDA

Perkataan rida berasal dari bahasa arab, radiya yang artinya senang hati (rela). Rida menurut syariah adalah menerima dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah swt, baik berupa hokum (peraturan-peraturan) maupun ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Sikap rida harus ditunjukkan, baik ketika menerima nikmat maupun tatkala ditimpa musibah.

Kebanyakan manusia merasa sukar atau gelisah ketika menerima keadaan yang menimpa dirinya, seperti kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat, kedudukan, kematian anggota keluarganya, dan lain-lain, kecuali orang yang mempunyai sifat rida terhadap takdir. Orang yang memiliki sifat rida tidak mudah bimbang atau kecewa atas pengorbanan yang dilakukannya. Ia tidak menyesal dengan kehidupan yang diberikan Allah swt dan tidak iri hati atas kelebihan yang didapat orang lain karena yakin bahwa semua itu berasal dari Allah swt. Sedangkan kewajibannya adalah berusaha atau berikhtiar dengan kemampuan yang ada.

Rida terhadap takdir bukan berarti menyerah atau pasrah tanpa usaha lebih dulu untuk mencari jalan keluarnya. Menyerah dan berputus asa tidak dibenarkan oleh tatanan hidup dan tidak dibenarkan pula oleh ajaran Islam. Allah swt. memberikan cobaan atau ujian dalam rangka menguji keimanan dan ketakwaan hamba-Nya.

Firman Allah swt.:

Nä3¯Ruqè=ö7oYs9ur &äóÓy´Î/ z`ÏiB Å$öqsƒø:$# Æíqàfø9$#ur <Èø)tRur z`ÏiB ÉAºuqøBF{$# ħàÿRF{$#ur ÏNºtyJ¨W9$#ur 3 ̍Ïe±o0ur šúïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÎÈ tûïÏ%©!$# !#sŒÎ) Nßg÷Fu;»|¹r& ×pt7ŠÅÁB (#þqä9$s% $¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmøs9Î) tbqãèÅ_ºu ÇÊÎÏÈ

Artinya : (155) dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil. (Q.S. Al Baqarah:155-156).

Sikap rida dapat ditunjukkan melalui hal-hal sebagai berikut:

1. Sabar dalam melaksanakan kewajiban hingga selesai dengan kesungguhan usaha atau ikhtiar dan penug tanggung jawab.

2. Senantiasa mengingat Allah swt. dan tetap melaksanakan shalat dengan kusyuk.

3. Tidak iri hati atas kekurangan atau kelebihan orang lain dan tidak ria untuk dikagumi hasil usahanya.

4. Senantiasa bersyukur atau berterima kasih kepada Allah swt. atas segala nikmat pemberian-Nya. Hal itu adalah upaya untuk mencapai tingkat tertinggi dalam perbaikan akhlak.

5. Tetap beramal saleh (berbuat baik) kepada sesama sesuai dengan keadaan dan kemampuan, seperti aktif dalam kegiatan social, kerja bakti, dan membantu orangtua di rumah dalam menyelesaikan pekerjaan mereka.

6. Menunjukkan kerelaan atau rida terhadap diri sendiri dan Tuhannya. Juga rida terhadap kehidupan terhadap takdir yang berbentuk nikmat maupun musibah, dan terhadap perolehan rezeki atau karunia Allah swt.

Selengkapnya...